logo-1.png
Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Select Language

KAMPUS PENCERAHAN – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UM-Go), Kamis kemarin (12/12/2019), melaksanakan Lokakarya Kurikulum Berbasis Kurikulum Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Nasional (SN)-Pendidikan Tinggi (Dikti) Menuju Program Studi (Prodi) Ilmu Keolahragaan (Ikor) di gedung Haryono Suyono, LPPM, UM-Go.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Perkumpulan Program Studi Ilmu Keolahragaan Indonesia (P2SIKI), Dr. Said Junaidi, M. Kes, Wakil Rektor I, Bidang Akademik, Prof. Moon Hidayati Otoluwa dan Dekan FKIP, Hamid Isa.

Mengawali sambutan, Dekan FKIP menjelaskan, bahwa pihaknya telah membentuk dan merintis prodi Ikor sejak tahun 2015. Bahkan telah dilakukan beberapa kali penyesuaian dan revisi. Olehnya, ia berharap, saat penyusunan borang nanti, sudah ada kurikulum yang disiapkan dan sudah didiskusikan dengan stakeholder.

Sementara itu, Wakil Rektor I menerangkan, jika hanya melihat modal kampus, tentu prodi ini belum akan sampai pada tahap ini. Akan tetapi ide ini berani dicetuskan berkat adanya dorongan dari sejumlah pihak. Diantaranya komunitas olahraga Gorontalo.

“Pada kegiatan pekan sains dan teknologi kemarin, salah satu rangkaian kegiatan yang dilaksanakan adalah lari maraton. Saking besarnya antusias masyarakat, sampai-sampai komunitas ini menyuarakan agar ada satu perguruan tinggi yang dapat mengayomi komunitas mereka,” terang Prof. Moon.

Selain itu, dorong oleh adanya pencak silat tapak suci UM-Go yang telah beberapa kali dilaksanakan turnamen yang selalu meriah juga menjadi bagian dari terwujudnya kegiatan ini. “Begitu banyak antusias masyarakat yang mengusulkan agar prodi keolahragaan ini diwujudkan. Dorongan inilah yang membuat kami saling berdiskusi, agar prodi ini dapat segera direalisasikan,” tambahnya.

Prodi inilah yang akan membina cabang olahraga yang ada di Gorontalo secara ilmiah, sehingga para pembina olahraga tidak sekedar melakukan kegiatan, tetapi bagaimana filsafatnya dari masing-masing kegiatan itu. “Jadi mereka akan memahami betul ilmu yang diajarkan. Dan hal ini hanya bisa dimaksimalkan lewat perguruan tinggi,” tukas Prof. Moon.

Soal syarat lokasi olahraga, kata Prof. Moon, UM-Go meminta agar hal ini juga mendapat perhatian dari sejumlah pihak. “Tanpa kerjasama kita tidak akan bisa maju, sekali lagi mohon dukungannya, terutama bagaimana menyusun kurikulum yang dibutuhkan oleh masyarakat,” lanjutnya.

Disatu sisi, Ketua P2SIKI mengatakan, penyusunan kurikulum yang baik dan bagus itu haruslah berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi (Permendikti) tentang penyusunan kurikulum. Kurikulum harus bisa menjawab tantangan kebutuhan di masyarakat, harus berbasis KKNI. Selain itu, dalam penyusunannya juga harus meminta masukan-masukan baik dari stakeholder yakni dari kalangan industri, dunia usaha, guru dan sekolah.

“Dari masukan-masukan tersebut, tahap selanjutnya melakukan perumusan kurikulum menjadi satu misi. Karena saat ini memasuki era revolusi industri sehingga harus disesuaikan dengan kebutuhan zaman yakni mencetak lulusan yang berdaya saing,” pungkasnya.

Close Menu