{"id":4538,"date":"2019-09-09T09:32:46","date_gmt":"2019-09-09T01:32:46","guid":{"rendered":"http:\/\/umgo.ac.id\/?p=4538"},"modified":"2019-09-15T09:35:44","modified_gmt":"2019-09-15T01:35:44","slug":"4-materi-pencak-silat-sangat-variatif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/umgo.ac.id\/?p=4538","title":{"rendered":"4 Materi Pencak Silat Sangat Variatif"},"content":{"rendered":"<p>KAMPUS PENCERAHAN &#8211; Keempat materi yang disampaikan pada Seminar Pencak Silat, Minggu kemarin (8\/9), nampaknya sangat variatif. Diantaranya, pencak silat dalam konteks warisan budaya, dalam perspektif psikologi, membangun sumber daya unggul dan pencak silat dalam konteks pembinaan karakter.<br \/>\nMasing-masing materi ini disampaikan oleh Bupati Kabupaten Gorontalo (Kabgor), Prof. Nelson Pomalingo, yang juga sebagai Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Gorontalo, Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UM-Go), Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Dr. Hartono Hadjarati dan Prof. Dr. H. Hariadi Said, Guru besar Universitas Negeri Gorontalo (UNG).<\/p>\n<p>Materi pertama disampaikan oleh Bupati Gorontalo. Dalam paparannya, Prof. Nelson menjelaskan, maksud dari bela diri adalah menunjukkan jati diri untuk membangun karakter. &#8220;Jadi tidak sekedar membela diri, tetapi dibangun karakter. Saya kira ini keunggulan silat, karena ada aspek spiritual di dalamnya,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Silat, lanjut Bupati, bukan pula sekedar olahraga bela diri, tetapi ini menjadi warisan budaya. &#8220;Saya sangat senang saat diminta menjadi ketua IPSI, bukan karena jabatannya, tetapi ini adalah amanah dalam rangka membangun warisan budaya kita. Kenapa kita bangga dengan yudo, karate, sementara kita punya warisan budaya yang luar biasa,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Selanjutnya materi kedua, disampaikan Rektor UM-Go. Dalam paparannya, dr. Isman lebih banyak mengupas materi dari sisi SDM. Baginya, SDM adalah potensi dalam diri manusia, untuk mewujudkan peran sebagai makhluk sosial yang adaptif, transpormatif dan mampu mengelola diri sendiri dan seluruh potensi yang terkandung di dalamnya menuju kesejahteraan hidup.<\/p>\n<p>&#8220;Setiap manusia sudah ada potensi diri. Makanya konsep pendidikan itu tidak ada nilai nol, sebab masing-masing punya potensi. Namun bagaimana potensi itu dikembangkan ini menjadi tugas kita semua,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Materi ketiga disampaikan Dr. Hartono Hadjarati. Ada 4 aspek, katanya, dalam pencak silat yang tidak bisa dipisahkan. Pertama aspek spiritual. Aspek ini akan mencerminkan sebuah karakter dari seseorang yang belajar bela diri. Kedua aspek bela diri yang berarti kepercayaan dan ketekunan dalam bela diri. Ketiga aspek olahraga. Ini berarti fisik dalam pencak silat menjadi hal yang penting. Terakhir, aspek seni, dimana istilah pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional.<\/p>\n<p>Materi keempat, oleh Prof. Dr. H. Hariadi Said. Prof. Hariadi menegaskan, bahwa fisik pada manusia layaknya bensin pada mobil atau motor. &#8220;Sebaik apapun penampilan, jika fisiknya rendah jangan pernah berharap untuk sukses,&#8221; tandasnya.<\/p>\n<p>Persoalan kedua adalah mengenai mental. Sebagian besar dari manusia sangat takut berbuat salah. Padalah orang yang tidak pernah salah adalah orang yang tidak pernah berbuat. &#8220;Jangan takut salah, sebab salah itu adalah bukti anda sedang berbuat sesuatu yang baru,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KAMPUS PENCERAHAN &#8211; Keempat materi yang disampaikan pada Seminar Pencak Silat, Minggu kemarin (8\/9), nampaknya sangat variatif. Diantaranya, pencak silat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":4539,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-4538","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4538","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4538"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4538\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4540,"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4538\/revisions\/4540"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4539"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4538"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4538"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/umgo.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4538"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}