Select Language

KAMPUS PENCERAHAN – Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) merupakan bagian yang  penting dan tidak terpisahkan dari gerakan dakwah Muhammadiyah. Bahkan PTMA merupakan salah satu wahana penyemaian kader persyarikatan dan kader umat yang akan menjunjung dan melaksanakan misi dan cita-cita Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Cita-cita luhur ini telah menjadi keyakinan dan keinginan Muhammadiyah sejak didirikan dan akan terus bergaung untuk menjadikannya lebih berarti bagi Republik Indonesia agar menjadi negara yang tenteram, maju, bermartabat dan sejahtera. Keberadaan Asosiasi Pengelola Asrama (ASLAMA) PTMA yang telah berdiri 3 tahun yang lalu diharapkan dapat mengayunkan langkah kaki bersama mengemban tugas dan amanah bersama seluruh asrama PTMA.

Kaitan dengan itu, maka peran dan fungsinya, maka ASLAMA bersama Majelis Dikti PP Muhammadiyah menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) dan Musyawarah Nasional (Munas) yang berlangsung selama tiga hari 23 – 26 November 2018 bertempat di Hotel Gets Semarang dengan mengundang seluruh direktur/mudir/kepala asrama PTMA se-Indonesia.

Agenda penting dalam Rakor ini adalah memantapkan pengelolaan asrama dalam hal leadership dan kurikulum untuk bagi pengembangan kader persyarikatan. Rakor ini juga digunakan untuk melaksanakan proses regenerasi dan restrukturisasi pada kepemimpinan ASLAMA ke depan.

Acara diawali dengan sambutan oleh Ketua ASLAMA, Ghoffar Ismail, S.Ag., M.A., serta dilanjutkan dengan pengarahan yang disampaikan oleh Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. H. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UM Go) yang ambil bagian pada kegiatan tersebut, diwakili Kepala LP2AIK Drs. Ad Mahmudy Irdja, MM. Menurut Ad Mahmudy, kegiatan munas ini sangat penting, tidak hanya sekedar memilih pengurus ASLAMA yang baru, tapi juga pemberian materi yang pada dasarnya menjadi pengalaman dalam pengelolaan asrama kedepan.

“Banyak hal yang didapat, bukan hanya memilih pengurus, tapi juga pemberian materi maupun sharing pengalaman dari PTM yang telah memiliki asrama,” imbuh Ad Mahmudy.

Dikatakan Ad Mahmudy, dari kegiatan tersebut dijelaskan bagaimana cara mengelola asrama, dimana pengelolaannya dijadikan wadah pengkaderan, karena disadari bahwasanya kader Muhammadiyah masih kurang menonjol di level nasional.

“Jadi kedepan bagaimana asrama tidak hanya untuk hunian mahasiswa, tapi juga menjadi pesantren, sehingga kedepan kader-kader Muhammadiyah tidak langka perannya di tingkat nasional,” paparnya.

Khusus UM Go, yang kini asramanya tengah dalam proses pembangunan, Ad Mahmudy mengatakan tentu dari sekarang perlu adanya manajemen dalam mempersiapkan pengelolaan asrama nantinya.

“Tentu banyak harus dipersiapkan, mulai dari manajemennya, struktur, panduan dan aturan main yang berlaku dalam pengelolaan asrama, dimana kesemuanya memiliki syarat – syarat khusus yang harus dipenuhi,” tukasnya.

Terkait dengan itu, Ad Mahmudy mengatakan dirinya akan segera melaporkan secara tertulis hasil dari munas pengeloloaan asrama mahasiswa PTMA se Indonesia ini kepada pimpinan dalam hal ini Rektor guna mendapatkan petunjuk untuk tindaklanjut kedepan terkait pengelolaan asrama di UM Go.

Close Menu