Select Language

KAMPUS PENCERHAN – Salah satu tradisi yang kerap didengar dalam perayaan hari raya Idul Fitri adalah acara open house. Iya, open house diartikan sebagai suatu kondisi dimana seseorang membuka rumahnya untuk siapa pun yang ingin bersilaturahmi kepadanya.

Secara sosiologis, open house merupakan sarana untuk merekatkan silaturahmi, sosialisasi dan sarana berbagi rezeki. Hal tersebut sejalan dengan perintah agama untuk meningkatkan silaturahmi yang berkahnya selain memanjangkan umur juga mendatangan rezeki. Sehingga tak heran kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan.

Seperti yang dilakukan pimpinan Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UM-Go). Untuk mempererat silaturahmi antara pimpinan, dosen serta tenaga penunjang akademik (TPA) di lingkungan UM-Go, maka setiap Idul Fitri, pimpinan kampus mulai dari Rektor, para Wakil Rektor dan para Dekan menyelenggarakan open house sejak awal lebaran hingga hari ketujuh.

Di tahun 2019 ini, Rektor UM-Go, dr. Muhammad Isman Jusuf mengambil open house di awal bulan Syawal. Sementara Wakil Rektor I dan Wakil Rektor 4
di hari ke 6 bulan Syawal dan Wakil Rektor II di hari ke 7 Syawal alias lebaran ketupat.

Adapun mengenai lebaran ketupat, menurut penjelasan Rektor, lebaran ini merupakan tradisi masyarakat Jawa Tondano yang telah menjadi bagian dari budaya Gorontalo di setiap Idul Fitri. Ketupat sendiri secara filosofi adalah singkatan dari “Laku Papat” yaitu empat tindakan yang dilakukan saat idul fitri.
Empat tindakan itu adalah Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan.

“Lebaran memiliki makna pintu ampunan yang terbuka lebar. Luberan memiliki makna untuk menyedakahkan harta yang meluber kepada orang yang membutuhkan. Leburan memiliki makna semua dosa dan kesalahan akan melebur karena saling memaafkan satu sama lain. Laburan bermakna agar manusia selalu menjaga kesucian, baik secara lahir maupun batin, antara sesama manusia,” terang dr. Isman.

Lebaran kerupat yang merupakan tradisi ternyata sarat dengan nilai-nilai Islami. Empat periilaku yang tergambar dalam ketupat ini seharusnya dihayati dan diamalkan oleh umat islam yang merayakan ketupat, terlebih lagi oleh masyarakat Gorontalo yang menjunjung falsafah “adat bersendi syara, syara bersendi kitabullah”.

“Hal inilah yang menjadi dasar kami untuk tetap konsisten melaksanakan budaya open house dan tradisi lebaran ketupat sebagai salah satu bentuk syiar agama untuk kemaslahatan kampus,” pungkasnya.

Close Menu