logo-1.png
Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Select Language

KAMPUS PENCERAHAN – Ada yang tak biasa dari kuliah umum yang dilaksanakan di kampus pencerahan Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UM-Go), Rabu kemarin (27/11/2019). Bukan soal materinya, tetapi pertemuan guru dan murid dalam satu panggung. Mereka adalah Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, dr. Hasto Wardoyo. Sp. OG (K) dan Rektor UM-Go, Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf.

Keduanya merupakan guru dan murid di masa silam, di Universitas Gajah Mada (UGM), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). “Beliau adalah guru saya sewaktu kuliah di Fakultas Kedokteran, UGM. Jadi kesuksesan saya hari ini sebagai rektor salah satunya disumbangsikan oleh dr. Hasto,” ungkap rektor saat memberikan sambutan.

Namun sebelum masuk lebih jauh, rektor terlebih dahulu menyampaikan pantun dihadapan para peserta dan tamu undangan kuliah umum, di gedung David Bobihue Akib. “Jalan-jalan ke Kulon Progo, bersama keluarga di akhir pekan, selamat datang dr. Hasto Wardoyo, di kampus peduli kependudukan,” tukas rektor.

Maksud dari pantun ini kemudian dijelas rektor lewat sambutannya. “Kulon Progo adalah daerah yang pernah dijabat dr. Hasto. Iya, beliau pernah menjabat sebagai bupati 2 periode di daerah ini,” terang rektor.

Tak hilang dibenak rektor, semasa kepemimpinannya, dr. Hasto sempat memperkenalkan bantuan pangan non tunai (BPNT), yakni beras, lele dan telur (BLT) kepada masyarakat kurang mampu. Para peserta penerima BNPT ini diberikan bantuan oleh dr. Hasto, yang disalurkan melalui kartu ATM setiap bulannya. Kemudian melakukan pencairan di toko agen yang sudah ditunjuk pihak bank.

Atas sejumlah prestasi yang dibuatnya, dr. Hasto akhirnya kembali dipercaya masyarakat Kulon Progo menjabat sebagai Bupati. Namun ditengah jalan, dr. Hasto mendapat tawaran langsung dari Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Kepala BKKBN Pusat. Ia pun menerima tawaran ini dengan berbagai pertimbangan. Diantaranya keprihatinan tentang masalah kependudukan, dalam arti program keluarga berencana perlu lebih disukseskan.

Kemudian target menurunkan angka kematian ibu dan bayi, pilarnya adalah keluarga, di situ ada program kontrasepsi, pembangunan keluarga sejahtera. “Karena saya adalah dokter kebidanan dan kandungan, saya merasa terpanggil dan ada target yang belum tercapai, sehingga perlu sekali mendapat perhatian bersama. Ada bonus demografi yang harus dimaksimalkan,” tutup dr. Hasto.

Close Menu