Menanggapi Fenomena Krisis Mental Remaja di Gorontalo: Berikut Perspektif Dosen Psikolog UMGO

Gorontalo menghadapi ancaman serius dalam bentuk krisis mental generasi yang melanda masyarakatnya. Kasus bunuh diri di Gorontalo makin memprihatinkan. Dalam satu pekan terakhir, tiga kasus bunuh diri terjadi di daerah ini. Temuan terbaru dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) mengungkapkan bahwa 1 dari 20 remaja di Indonesia, setara dengan 5,5 persen atau sekitar 2,45 juta individu, telah didiagnosis mengalami gangguan mental. Selain itu, 1 dari 3 remaja, sekitar 34,9 persen atau sekitar 15,5 juta individu, mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam jangka waktu 12 bulan terakhir.

Dalam menghadapi tantangan yang semakin meningkat ini, pendapat dari para ahli sangat penting. Salah satunya adalah Dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Rahmawati Parman yang telah memberikan pandangan yang kuat mengenai pentingnya mengatasi permasalahan kesehatan mental remaja.

Dalam wawancara eksklusif HUMAS UMGO dengan Dosen Psikolog UMGO Rahmawati Parman, beliau menegaskan bahwa permasalahan kesehatan mental remaja tidak boleh diabaikan. Beliau menyadari urgensi penanganan yang serius terhadap kondisi ini dan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kesehatan mental remaja.

“Sebetulnya masa remaja ini adalah masa yang sangat krusial di dalam tahapan perkembangan manusia, termasuk masa remaja merupakan masa yang rentan krisis atau masa kritis, masa yang kemudian menjadi masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Belum lagi di masa remaja ini terjadi banyak sekali perkembangan baik dari segi fisik, kognitif, sosial emosional sehingga ketika menghadapi perubahan-perubahan itu anak-anak atau remaja cenderung mengalami banyak sekali kesulitan dari segi fisik baik mentality-nya maupun sosial emosionalnya. kalau dilihat dari perspektif neuron sains, di masa ini otak remaja belum berkembang secara matang atau secara penuh sehingga cenderung di tahapan perkembangan remaja ini mengalami banyak sekali kebingungan, salah satu yang menjadi tugas perkembangan remaja adalah mencari jati diri atau mencari identitas sehingga wajar ketika seorang remaja senantiasa mengalami kebingungan di masa ini. terlebih jika ternyata di tahapan ini tidak ada pendampingan dari orang dewasa termasuk orang tua atau mungkin orang dewasa di lingkungan si remaja, maka mereka akan cenderung mengalami kebingungan identitas dan kesulitan menghadapi permasalahan-permasalahan yang terjadi di masa tersebut.” jelasnya

Menurut Dosen Rahmawati Parman pencegahan dan pengobatan masalah kesehatan mental remaja harus dilakukan secara komprehensif. Hal ini melibatkan pendekatan multidisiplin, termasuk dukungan psikologis, intervensi sosial, serta edukasi dan pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental. Ia menjelaskan bahwa persoalan bunuh diri ini tidak sesederhana ketika kita menyebut salah asuh atau karena kurang iman atau tidak, tetapi multivator dan itu karena dipicu oleh permasalahan yang menumpuk lama, yang tidak tertangani dengan baik. ditambah lagi dari segi perkembangan remaja saat ini yang sedang berada dalam tahap yang krusial di dalam kehidupan mereka.

Dalam menghadapi krisis mental remaja, dosen psikolog UMGO, Rahmawati Parman, memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan oleh para remaja, siswa, mahasiswa,dan masyarakat umum. Pertama, bergabung dengan komunitas-komunitas yang positif untuk mengembangkan diri secara positif. Dengan bergabung dengan komunitas-komunitas, itu dapat membantu kita belajar hal-hal yang baik dan mengurangi kebingungan saat berada di tahap remaja.

Kedua, jika menghadapi permasalahan, penting untuk berbicara dengan orang yang tepat seperti konselor atau psikolog. Hindari berkonsultasi dengan orang yang tidak memahami remaja, karena reaksi negatif dan pengucilan hanya akan memperburuk kondisi.

“Ide bunuh diri seringkali muncul karena remaja merasa tidak ada yang peduli dan tidak ada solusi lain selain menyakiti diri sendiri. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar perlu mendengarkan keluhan remaja, memberikan bimbingan yang baik, tanpa menjustifikasi atau menghakimi. Hal ini akan membantu remaja melewati tahap kritis dalam perkembangannya.” tutupnya

PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com