Keadilan Restoratif Jadi Alternatif Penyelesaian Kasus Tindak Pidana Ringan

Kampus Unggul dan Berkemajuan – Berangkat dari kekecewaan yang tumbuh di masyarakat bahwa sistem hukum di Indonesia yang dinilai mencederai rasa keadilan, restorative justice atau keadilan restoratif menjadi alternatif penyelesaian kasus tindak pidana ringan untuk mewujudkan keadilan hukum yang lebih memanusiakan manusia di hadapan hukum.

Hal ini disampaikan Dr. Salahudin Pakaya, MH., selaku Dosen Hukum UMGO yang tergabung dalam LKBH UMGO dan menjadi penasehat Hukum. Pada pelaksanaan Upaya Hukum Restorative Justice antara Korban dan Pelaku, pada Rabu (7/12/2022).

“Hukum terus bergerak mengikuti dinamika masyarakat, restorative justice menjadi terobosan untuk mewujudkan keadilan hukum yang memanusiakan manusia, menggunakan hati nurani. Sekaligus melawan stigma negatif yang tumbuh di masyarakat yaitu hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Sehingga perkara-perkara yang sifatnya sepele atau ringan dapat diselesaikan di luar pengadilan dan tidak perlu dilimpahkan ke pengadilan,” terang Dr. Salahudin usai pelaksanaan Restorative Justice.

Menurutnya, penerapan keadilan restoratif dengan cara memediasi antara korban dan pelaku kejahatan dalam penyelesaian permasalahan memiliki tujuan utama pemulihan kerugian pada korban dan pengembalian pada keadaan semula.

“Lebih daripada itu, melalui RJ (restorative justice), stigma negatif atau labeling “orang salah” itu dihapuskan. Ia tidak akan diadili di depan umum dan diberi kesempatan untuk bertaubat. Kalau dalam masa kesempatan itu diberikan, orang itu mengulangi perbuatannya, maka dia siap untuk dipenjara,” jelasnya.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Dr. Salahudin Pakaya, MH., sebagai penasehat Hukum, Syamsul Arifin, SH., Penuntut Umum, Penyidik Polsek Tolangohula, Kepala Desa Gandaria, Pelaku, Korban dan didampingi keluarga.

PHP Code Snippets Powered By : XYZScripts.com